Senin, 06 Mei 2024

PENTJAK SOETJI KOEMPOELAN HATI (PSKH)

    Kyai Syahadat beliau adalah seorang santri yang berasal dari keResidenan Kedu dan beliau juga belajar Pencak SH kepada kadhang murid langsung dari Ki Ngabei Suro Diwiryo seperti Mbah Sarkam, Mbah Citro Redjo dan juga Mbah Karno dan beberapa kadhang lainya yang hampir kesemuanya bergagubung dalam wadah Organisasi Persaudaraan Setia Hati besutan Ki Munandar.

    Setelah menyelesaikan pelajaran Pencak SH Kyai Syahadat pulang ke Blitar dan mendirikan Perguruan bernama PSKH (Pentjak Soetji Koempoelan Hati) dengan merubah jurus yang beliau dapat namun tetap dengan ciri khas pencak SH, PSKH pernah didaftarkan IPSI Blitar oleh Letkol TNI Mas Farkhan ketua PSKH pada waktu itu tapi kini saudara saudara PSKH banyak yang telah melebur dalam Pagar Nusa yang hanya ada di Blitar.

PENYEBARAN PAGAR NUSA DI BLITAR

PAGAR NUSA KOTA BLITAR 

    Berdasarkan wawancara dengan kang mas Faishol Purnomo, sejarah pagar nusa kota blitar dapat diungkapkan melalui cerita dan penuturan para sesepuh Pagar Nusa, terutama bapak Faishol Purnomo. Beliau pernah berlatih Pagar Nusa Ketika masih menjadi Mahasiswa di Universitas Islam Malang (Unisma).

    Pada awal berdirinya, Pagar Nusa blitar raya mengadakan latihan di Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, tepatnya di Kediaman bapak Rosulin. Saat ini Bapak Rosulin menjabat sebagai Dewan Pendekar Pagar Nusa Kabupaten Blitar. Menurut penuturan kang Faishol Purnomo Pagar Nusa Blitar Raya didirikan sekitar tahun 1996/1997 pada saat beliau masih terlibat aktif didalamnya.

    Latihan di KEcamatan Doko dipimpin langsung oleh abah Muhtar, selain itu Pagar Nusa Blitar Raya juga diketahui pernah membuka latihan di Desa Tegalasri Wlingi dan Desa Jinglong Sutojayan. Kedua Desa tersebut merupakan “babat alas” dari abah Muhtar, yang saat ini menjabat sebagai Dewan Pendekar PP. Pagar Nusa. Namun berkembangnya Pagar Nusa didesa tersebut hingga saat ini belum terdeteksi dan kabar mengenai santri yang kala itu aktif berlatih juga belum terdengar.

    Pada tahun 1997 setelah Kang Faishol Purnomo menyelesaikan studinya beliau Kembali ke Kota Blitar, tepatnya di Kelurahan Plosokerep Kota Blitar. Disana beliau bertemu dengan abah Dirhamsyah (Alm) Sekardangan dan abah Shodiq (Alm) Plosokerep, keduanya adalah pendekar silat yang tergabung di kalangan Nahdlatul Ulama di Blitar. Penting untuk diketahui bahwa abah Dirhamsyah adalah sesepuh Pencak Suci Kumpulan Hati (PSKH), sebuah perguruan pencak silat aliran Setia Hati yang berbasis di Blitar.

    Selanjutnya karena Kang Faishol Purnomo merupakan keponakan dari Abah H. Shodiq yang memiliki visi dan misi serupa dengan abah Dirhamsyah untuk berkhidmah di Nahdlatul Ulama maka dimulaikan latihan Pagar Nusa untuk pertama kalinya di kediaman Kang Faishol dan Kediaman Abah H Shodiq Plosokerep. Ini adalah awal dan sejarah berdirinya Pagar Nusa secara kultural di Kota Blitar pada tahun 1997.

    Sebelum beliau membuka latihan Pagar Nusa di Kota Blitar., Pagar Nusa atau Pencak Silat Nahdlatul Ulama sudah dikenal. Namun, kebanyakan dari perguuan PORSIGAL yang diwakili oleh bapak H. Atim Miyanto dari Sukorejo Kota Blitar.

    Pada awalnya latihan Pagar Nusa di Plosokerep Kota Blitar melibatkan santri-santri PSKH yang berasal dari abah Dirhamsyah, terdapat dua titik latihan yang diketahui yaitu titik yang pertama dengan Bapak Sholikin,Bapak Muda’I, Bapak Slamet, Bapak Mudai dan lainnya,. Titik latihan kedua dengan kang Miftahudin, Kang Imam Nur Huda, Kang setiono dan lainnya. Semua yang berlatih direkomendasikan oleh Abah Dirhamsyah sebagai seepuh PSKH, hal ini mendandakan bahwa PSKH merupakan bagian dari Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa.

    Lantas mengapa santri-santri dan pesilat dari Abah Dirhamsyah berlatih Pagar Nusa? Karena beliau semua hanya berlatih jurus dan senaman baku dari Pagar Nusa sebagai Tindakan formal dan resmi untuk menerima Pagar Nusa sebagai wadah dari perguruan pencak silat dibawah lingkunagn Nahdlatul Ulama tanpa harus menghilangkan kultur, ajaran dan warisan budaya yang sudah ada. Prinsip yang dipegang adalah memelihara ajaran lama yang baik dan mengambil yang baru untuk lebih baik.

    Setelah berjalannya waktu Pagar Nusa membuka titik latihan salah satunya MA’NU Kota Blitar pada tahun 1998. Dalam perkembangannya Pagar Nusa di Kota Blitar mengalami pasang surut tetapi eksistensi Pagar Nusa di Kota Blitar tetap ada sampai sekarang dan akan terus jaya hingga Yaumil Qiyamah.

    Demikian sekelumit sejarah Pagar Nusa berdiri di Kota Blitar. Masih banyak kekurangan yang penulis ketahui. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan sejarah baik nama, wahtu maupun tempat, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini terbuka untuk dikoreksi bersama demi peningkatan wawasan sejarah dan literasi dilingkungan Pagar Nusa Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.


ALIRAN DAN PERGURUAN YANG BERNAUNG DI PAGAR NUSA

 

Perguruan Beladiri yang Bernaung di Pagar Nusa

    PSNU Pagar Nusa di ketahui mewadahi beberapa perguruan beladiri NU yang dahulunya berdiri sendiri, sehingga juga dikenal dengan sebutan "Pagar Nusa IPSI-Nya NU." Karena beragam perguruan beladiri berafiliasi di PSNU Pagar Nusa. Ada ratusan perguruan maupun padepokan Pencak Silat NU yang menjadi bagian dari Pagar Nusa, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.


1. PSHC - 01 Agustus 1828.

2. Cimande Sri Panjalu - Hutan Tasik, 14 September 1835.

3. PPS. Cepedi - Yogyakarta, 17 September 1922.

4. SPKM - Tulungagung, 03 Maret 1933.

5. PS. Garuda Bambu Runcing - Temanggung, 18 Desember 1959.

6. PPS. Ababil Surakarta - Surakarta, 10 Oktober 1961.

7. PPS. Asma' - Purwokerto, 08 Agustus 1962.

8. GASMI - Kediri, 11 Januari 1966.

9. Batara Perkasa - Ponorogo, 09 September 1966.

10. PPS. Maruyung - Purwokerto, 15 Januari 1967.

11. PPS. Kuntu Mancilan - Pasuruan, 27 Januari 1980.

12. PPS. Kuciang Putiah Harimau Campo - Padang panjang, 04 April 1980.

13. PPS. NH Perkasya - Jombang, 02 November 1982.

14. PS. Ababil Jember - Jember, 26 Juni 1984.

15. LBI. Harimau Putih - Kendal, 08 Desember 1987.

16. PS. Bunga Satria - Oku Timur, 01 Januari 1989.

17. PS. Al Akhlaqu Ath Thohiroh - Tulungagung, 18 Mei 1991.

18. PS. Silambawiqri - Rangkasbitung, 29 Agustus 1993.

19. PPS. Sunan Giri - Tulungagung, 09 Juni 1993.

20. Peguron Sapu Jagad - Jakarta, 17 Agustus 2003.

21. Padepokan satria agung - Pasuruan, 12 Desember  2012.

22. Majelis Riyadhoh Al Harakah - Blitar, 20 November 2018.

23. SBS Pencak kejawen - Pacitan, 18 November 2021

24. Padepokan Nurul Burhan - Ngawi, 1991

25. PPS Kha Mim Shod (HMS) - Purwokerto, 23 Juli 1990

26. PSKH (Pencak Suci Kumpulan Hati) - Blitar

27. PPS. HOKHASITO Garuda Putih - Jember, 1972

28. Pagar Nusa TI - Nganjuk, 1994

29. Padepokan Harimau NU - Kab. Malang, 11 Januari 2019

30. Porsigal - Blitar, 02 Maret 1978


Masih banyak lagi aliran-aliran atau padepokan yang belum disebutkan.

PRASETYA PAGAR NUSA

 

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ

Kami Pesilat Pagar Nusa Sanggup Melaksanakan :

  1. Bertaqwa kepada Allah SWT.
  2. Berbakti kepada Nusa dan Bangsa
  3. Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan
  4. Mempertahankan kebenaran dan mencegah kemungkaran
  5. Mempertahankan faham Ahlusunnah wal Jama'ah An Nahdliyah

Minggu, 05 Mei 2024

MAKNA LAMBANG PAGAR NUSA

 SIMBOL DAN ARTI


    Lambang PAGAR NUSA Simbol LPS Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan LAA GHAALIBA ILLA BILLAH yang melingkupi bola dunia di dalam kurva segi lima dengan beberapa atribut dan perincian sebagai berikut :


    Kurva segi lima merupakan simbolisasi dari Syari’at Islam yang mempunyai lima rukun dan merupakan simbolisasi pada adanya rasa kecintaan kepada bangsa dan negara yang berpancasila. Simbolisasi ini berangkat dari dasar pengertian rukun Islam yang Nabi SAW sampaikan :

Islam itu didirika atas lima : Bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah bagi yang mampu, dan puasa Ramadhan ( HR Bukhory )


    Tiga garis tepi yang sejajar dengan garis kurva merupakan lambang dari tiga pola utama yang berjalan bersama dalam cara hidup warga Nahdlatul Ulama yaitu Iman, Islam, Ihsan sebagaimana Hadits Nabi SAW ketika ditanya oleh Malakat Jibril.


    Bintang sudut lima sebanyak sembilan buah dengan pola melingkar di atas bola bumi dan pada bagian paling atas bintangnya tampak lebih besar ini merupakan ekspresi dari pola kepemimpinan wali songo dan juga idealisasi dari suatu cita-cita yang bersifat maksimal karena selain bintang merupakan simbol kemuliaan juga jumlah sembilan merupakan angka tertinggi. Ini sesuai dengan mimpi Nabi Yusuf tentang bintang sebagai isyarat akan mencapai kemuliaan.

Firman Allah SWT :

Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai ayahku sesungguhnya aku bemimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan ; kulihat semuanya sujud kepadaku. ( QS.Yusuf : 4)

Bintang terbesar mengisyaratkan adanya pola kepemimpinan yang dalam Islam merupakan suatu keharusan.


    Gambar cabang / trisula terletak ditengah bola dunia bagian atas tepat dibawah bintang terbesar merupakan manifestasi kenyataan historis bahwa senjata jenis inilah yang tertua dan lebih luas penyebarannya di bumi nusantara. Sebagai kelompok beladiri pencak silat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ), Pagar Nusa memasukkan simbol tersebut supaya tidak tercerabut dari identitas persatuan beladiri asli Indonesia. Sebagaimana kita maklumi bersama Barang siapa memisahkan diri dari kelompok dimakan srigala


    Bola Dunia / gambar bumi tepat di tengah merupakan ciri khas dari organisasi underbow Nahdlatul Ulama yang simbol utamanya berupa bumi dan tampar sebagaimana di lukiskan oleh tangan pertamanya KH. RIDWAN ABDULLAH berdasar Istikharahnya.


    Pita melingkupi bumi dengan tulisan LAA GHAALIBA ILLAA BILLAH

Yang berarti tidak ada yang menang ( mengalahkan ) kecuali dengan pertolongan Allah merupakan tata nilai beladiri khas Pagar Nusa. Kalimat ini pada awal pembentukannya berbunyi

LAA GHAALIBA ILLALLAH kemudian oleh K.H. Sansuri Badawi dianjurkan untuk diberi tambahan ba sehingga berbunyi seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan pola kalimat pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH yang bekonotasi umum ( am ) bagi segala bidang kehidupan.

Sedangkan secara khusus ( khas ) dengan mengambil tibar bahwa dalam Al-Quran kegiatan-kegiatan yang melibatkan beladiri secara fisik maupun non fisik banyak disebut dengan menggunakan kalimat yang berasal dari akar kata ghalaba, maka Pagar Nusa menggunakan kalimat sebagaimana tercantum dalam simbol

Firman Allah : Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu ( QS. Ali Imron : 160 )

Orang orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata : berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah ( QS. Al-Baqarah : 249 )

Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang -orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut ( agama ) Allah itulah yang pasti menang. ( QS. Al-Maa-idah : 56 ).


    Warna Hijau dan putih merupakan dua warna yang secara universal mengandung makna baik. Sebab segala yang bersih dan suci baik secara materiil ( fisik ) maupun immateriil ( non fisik ) dapat disimbolkan dengan warna putih. Sedangkan hal-hal yang bersifat sejuk, subur, makmur, tenang, enak dipandang dan lain-lain yang membahagiakan selalu dapat disimbolkan dengan warna hijau.


    Warna Putih merupakan warna wajah cerah bagi orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di akhirat.


    Warna hijau merupakan warna ahli sorga yang merupakan tempat kebahagiaan manusia, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT. :

Mereka itulah bagi mereka surga , megalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. ( QS.Kahfi : 31).

Dengan demikian kombinasi warna itu merupakan kombinasi warna yang mengidolakan pemandangan di Surga kelak.

Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. ( QS Al-Insan 21)

CULTURE PENCAK SILAT PESANTREN

TRADISI SILAT DI PESANTREN

    Dilingkungan Pesantren NU,terdapat banyak aliran silat baik aliran silat jawa timur, jawa barat, jawa tengah, Banten, silat betawi, silek minang, silat Mandar, Silat Mataram, dan lain lain. Oleh karena itulah untuk menyatukan semua aliran silat tersebut di bentuklah Pagar Nusa. Sebagai wadah perkumpulan pencak silat yang masih dalam naungan NU. Wadah ini tetap membuka keragaman  dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri. Artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara.


PERANAN GUS MAKSUM DALAM PEMBENTUKAN PAGAR NUSA

    Gus maksum adalah tokoh persilatan yang sudah sangat terkenal didunia persilatan nusantara, siapa yang tidak kenal beliau? beliau sudah malang melintang dalam panggung adu kedigdayaan para pendekar nusantara. Gus maksum terkenal dengan sebutan Si rambut api, karna saat beliau menjadi komandan pasukan penumpas PKI, di tengah pertempuran rambut beliau berubah menjadi bara api yang menyala hingga para penganut paham PKI dapat dimusnahkan dari nusantara. Dan konon hanya ibunda beliau yang sanggup memotong rambut beliau.


    Seiring berkembangnya zaman, Indonesia sudah mempunyai organisasi fedarasi silat IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), Gus maksum dan para kiyai-kiyai nahdlotul Ulama’ seluruh nusantara mengadakan rapat untuk membentuk organisasi silat yang bisa masuk IPSI serta mampu mewadai perguruan-perguruan yang ada di bawah naungan organisasi NU, maka rapat yang di adakan di PonPes Lirboyo Kediri itu pun menghasilkan terbentuknya PAGAR NU dan BANGSA yang di singkat PAGAR NUSA, pada tahun 1988 akhirnya organisasi ini masuk IPSI dan mewadai perguruan- perguruan dibawah panji NU seperti perguruan GASMI, perguruan BATARA, perguruan CIMANDE, perguruan SAPU JAGAD, perguruan NH PERKASYA, perguruan CAKRA dll


Selain Gus maksum terpilih sebagai ketua Pagarnusa beliau juga terus mengembangkan Gasmi keseluruh penjuru negeri, seperti diwilayah Kalimantan, Sulawesi, sumatera, Jawa dll.

    Sebenarnya di kalangan NU banyak sekali Pendekar Silat, Kyai atau ajeungan yang memiliki ilmu kanuragan, namun nama Gus Maksum tidak bisa di pisahkan dari sejarah Pencak Silat Pagar Nusa. Kecintaan silat dan rasa keprihatinan Gus Maksum bahwa banyak sekali aliran silat yang ada di lingkungan NU tapi belum punya wadah yang mengikat sehingga menjadi keluarga yang bersama sama mengembangkan serta mempertahankan tradisi silat yang turun temurun dari Wali songo mengalir ke tokoh tokoh pesantren


    Hal inilah yang menginpirasi beliau mendirikan sebuah perguruan silat, ide pendirian silat ini rencananya diberi nama GASMI (Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) pada tahun 1965 walaupun belum resmi berdiri, beliau sudah mulai melakukan pelatihan silat. pada waktu itu pelatihan diadakan di komplek pesantren Lirboyo Kediri, selain bertujuan mengembangkan budaya silat di pesantren juga salah satu counter atas LEKRA ( lembaga kesenian rakyat ) lembaga di bawah naungan partai komunis indonesia PKI. Sebab LEKRA adalah otak dibalik aksi provokatif, sabotase, teror dan lain lain. Menghadapi aksi LEKRA ini,beliau mengatakan “Ada aksi ada Reaksi” artinya LEKRA beraksi GASMI bereaksi, Amar ma’ruf nahi mungkar selalu ditegakan.


    Karena kesibukan beliau mengabdi pada umat, ngurusin santri dan perjuangan melawan aksi aksi PKI baru setelah situasi mulai kondusif pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didirikan dikediaman beliau, dihadiri para pendekar se eks-karisidenan Kediri dan Ponorogo.


    GASMI inilah yang menginspirasi Gus Maksum untuk menyatukan silat yang ada di NU. dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal seperti Jiwa Suci milik pesantren Al maruf bandar lor kediri, PORSIGAL silat tradisional Blitar, Asta Dahana perguruan silat Kediri, dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.


MASUKNYA GASMI DAN PAGAR NUSA KE WONOGIRI

    Berawal dari rasa ketidak puasan sekelompok pemuda yang sering keluar masuk organisasi silat yang ada di kismantoro,mereka adalah Pak Rohani,kang Roni,kang Bilal,kang kawit.kang paru dkk,mereka merasakan ada yang kurang dengan organisasi yang mereka Pernah coba masuki karna organisasi-organisasi itu tidak pernah mewakili spirit kerohanian yang dapat menyeimbangkan gerakan fisik dan jiwa spiritual atau inner power di dalam jiwa mereka.Akhirnya mereka dipertemukan dengan para pelatih GASMI PONOROGO oleh kang Tono yang sudah mengikuti latihan terlebih dulu di ponorogo yaitu Kang MUN,kang Medul,kang Shadiq dll ,mereka sepakat mengadakan latihan dan latihan pertama kali di adakantahun 2002 di halaman masjid Pelem,Kembangan,Gesing,Kismantoro dengan diikuti 36 siswa dan 30 siswa yang lolos menjadi waga dan berhak menyandang gelar pendekar yang telah diberi ijazah tenaga dalam oleh Gus maksum .

    Awal-awal berdirinya GASMI di kismantoro mendapatkan tentangan yang sangat keras oleh organisasi silat yang sudah ada terlebih dahulu diwilayah kismantoro,tantangan itu berupa intimidasi fisik maupun psikis namun karna izin Allah gasmi Pagarnusa berkembang sangat pesat dan hingga kini mencapai ribuan siswa yang telah lulus menjadi warga dan pendekar.

PENTJAK SOETJI KOEMPOELAN HATI (PSKH)

    Kyai Syahadat beliau adalah seorang santri yang berasal dari keResidenan Kedu dan beliau juga belajar Pencak SH kepada kadhang murid la...