Kyai Syahadat beliau adalah seorang santri yang berasal dari keResidenan Kedu dan beliau juga belajar Pencak SH kepada kadhang murid langsung dari Ki Ngabei Suro Diwiryo seperti Mbah Sarkam, Mbah Citro Redjo dan juga Mbah Karno dan beberapa kadhang lainya yang hampir kesemuanya bergagubung dalam wadah Organisasi Persaudaraan Setia Hati besutan Ki Munandar.
Senin, 06 Mei 2024
PENTJAK SOETJI KOEMPOELAN HATI (PSKH)
PENYEBARAN PAGAR NUSA DI BLITAR
PAGAR NUSA KOTA BLITAR
Berdasarkan wawancara dengan kang mas Faishol Purnomo, sejarah pagar nusa kota blitar dapat diungkapkan melalui cerita dan penuturan para sesepuh Pagar Nusa, terutama bapak Faishol Purnomo. Beliau pernah berlatih Pagar Nusa Ketika masih menjadi Mahasiswa di Universitas Islam Malang (Unisma).
Pada awal berdirinya, Pagar Nusa blitar raya mengadakan latihan di Kecamatan Doko Kabupaten Blitar, tepatnya di Kediaman bapak Rosulin. Saat ini Bapak Rosulin menjabat sebagai Dewan Pendekar Pagar Nusa Kabupaten Blitar. Menurut penuturan kang Faishol Purnomo Pagar Nusa Blitar Raya didirikan sekitar tahun 1996/1997 pada saat beliau masih terlibat aktif didalamnya.
Latihan di KEcamatan Doko dipimpin langsung oleh abah Muhtar, selain itu Pagar Nusa Blitar Raya juga diketahui pernah membuka latihan di Desa Tegalasri Wlingi dan Desa Jinglong Sutojayan. Kedua Desa tersebut merupakan “babat alas” dari abah Muhtar, yang saat ini menjabat sebagai Dewan Pendekar PP. Pagar Nusa. Namun berkembangnya Pagar Nusa didesa tersebut hingga saat ini belum terdeteksi dan kabar mengenai santri yang kala itu aktif berlatih juga belum terdengar.
Pada tahun 1997 setelah Kang Faishol Purnomo menyelesaikan studinya beliau Kembali ke Kota Blitar, tepatnya di Kelurahan Plosokerep Kota Blitar. Disana beliau bertemu dengan abah Dirhamsyah (Alm) Sekardangan dan abah Shodiq (Alm) Plosokerep, keduanya adalah pendekar silat yang tergabung di kalangan Nahdlatul Ulama di Blitar. Penting untuk diketahui bahwa abah Dirhamsyah adalah sesepuh Pencak Suci Kumpulan Hati (PSKH), sebuah perguruan pencak silat aliran Setia Hati yang berbasis di Blitar.
Selanjutnya karena Kang Faishol Purnomo merupakan keponakan dari Abah H. Shodiq yang memiliki visi dan misi serupa dengan abah Dirhamsyah untuk berkhidmah di Nahdlatul Ulama maka dimulaikan latihan Pagar Nusa untuk pertama kalinya di kediaman Kang Faishol dan Kediaman Abah H Shodiq Plosokerep. Ini adalah awal dan sejarah berdirinya Pagar Nusa secara kultural di Kota Blitar pada tahun 1997.
Sebelum beliau membuka latihan Pagar Nusa di Kota Blitar., Pagar Nusa atau Pencak Silat Nahdlatul Ulama sudah dikenal. Namun, kebanyakan dari perguuan PORSIGAL yang diwakili oleh bapak H. Atim Miyanto dari Sukorejo Kota Blitar.
Pada awalnya latihan Pagar Nusa di Plosokerep Kota Blitar melibatkan santri-santri PSKH yang berasal dari abah Dirhamsyah, terdapat dua titik latihan yang diketahui yaitu titik yang pertama dengan Bapak Sholikin,Bapak Muda’I, Bapak Slamet, Bapak Mudai dan lainnya,. Titik latihan kedua dengan kang Miftahudin, Kang Imam Nur Huda, Kang setiono dan lainnya. Semua yang berlatih direkomendasikan oleh Abah Dirhamsyah sebagai seepuh PSKH, hal ini mendandakan bahwa PSKH merupakan bagian dari Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa.
Lantas mengapa santri-santri dan pesilat dari Abah Dirhamsyah berlatih Pagar Nusa? Karena beliau semua hanya berlatih jurus dan senaman baku dari Pagar Nusa sebagai Tindakan formal dan resmi untuk menerima Pagar Nusa sebagai wadah dari perguruan pencak silat dibawah lingkunagn Nahdlatul Ulama tanpa harus menghilangkan kultur, ajaran dan warisan budaya yang sudah ada. Prinsip yang dipegang adalah memelihara ajaran lama yang baik dan mengambil yang baru untuk lebih baik.
Setelah berjalannya waktu Pagar Nusa membuka titik latihan salah satunya MA’NU Kota Blitar pada tahun 1998. Dalam perkembangannya Pagar Nusa di Kota Blitar mengalami pasang surut tetapi eksistensi Pagar Nusa di Kota Blitar tetap ada sampai sekarang dan akan terus jaya hingga Yaumil Qiyamah.
Demikian sekelumit sejarah Pagar Nusa berdiri di Kota Blitar. Masih banyak kekurangan yang penulis ketahui. Jika terdapat kesalahan dalam penulisan sejarah baik nama, wahtu maupun tempat, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya. Tulisan ini terbuka untuk dikoreksi bersama demi peningkatan wawasan sejarah dan literasi dilingkungan Pagar Nusa Kota Blitar, Kabupaten Blitar dan sekitarnya.
ALIRAN DAN PERGURUAN YANG BERNAUNG DI PAGAR NUSA
Perguruan Beladiri yang Bernaung di Pagar Nusa
PSNU Pagar Nusa di ketahui mewadahi beberapa perguruan beladiri NU yang dahulunya berdiri sendiri, sehingga juga dikenal dengan sebutan "Pagar Nusa IPSI-Nya NU." Karena beragam perguruan beladiri berafiliasi di PSNU Pagar Nusa. Ada ratusan perguruan maupun padepokan Pencak Silat NU yang menjadi bagian dari Pagar Nusa, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut.
1. PSHC - 01 Agustus 1828.
2. Cimande Sri Panjalu - Hutan Tasik, 14 September 1835.
3. PPS. Cepedi - Yogyakarta, 17 September 1922.
4. SPKM - Tulungagung, 03 Maret 1933.
5. PS. Garuda Bambu Runcing - Temanggung, 18 Desember 1959.
6. PPS. Ababil Surakarta - Surakarta, 10 Oktober 1961.
7. PPS. Asma' - Purwokerto, 08 Agustus 1962.
8. GASMI - Kediri, 11 Januari 1966.
9. Batara Perkasa - Ponorogo, 09 September 1966.
10. PPS. Maruyung - Purwokerto, 15 Januari 1967.
11. PPS. Kuntu Mancilan - Pasuruan, 27 Januari 1980.
12. PPS. Kuciang Putiah Harimau Campo - Padang panjang, 04 April 1980.
13. PPS. NH Perkasya - Jombang, 02 November 1982.
14. PS. Ababil Jember - Jember, 26 Juni 1984.
15. LBI. Harimau Putih - Kendal, 08 Desember 1987.
16. PS. Bunga Satria - Oku Timur, 01 Januari 1989.
17. PS. Al Akhlaqu Ath Thohiroh - Tulungagung, 18 Mei 1991.
18. PS. Silambawiqri - Rangkasbitung, 29 Agustus 1993.
19. PPS. Sunan Giri - Tulungagung, 09 Juni 1993.
20. Peguron Sapu Jagad - Jakarta, 17 Agustus 2003.
21. Padepokan satria agung - Pasuruan, 12 Desember 2012.
22. Majelis Riyadhoh Al Harakah - Blitar, 20 November 2018.
23. SBS Pencak kejawen - Pacitan, 18 November 2021
24. Padepokan Nurul Burhan - Ngawi, 1991
25. PPS Kha Mim Shod (HMS) - Purwokerto, 23 Juli 1990
26. PSKH (Pencak Suci Kumpulan Hati) - Blitar
27. PPS. HOKHASITO Garuda Putih - Jember, 1972
28. Pagar Nusa TI - Nganjuk, 1994
29. Padepokan Harimau NU - Kab. Malang, 11 Januari 2019
30. Porsigal - Blitar, 02 Maret 1978
Masih banyak lagi aliran-aliran atau padepokan yang belum disebutkan.
PRASETYA PAGAR NUSA
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ
Kami Pesilat Pagar Nusa Sanggup Melaksanakan :
- Bertaqwa kepada Allah SWT.
- Berbakti kepada Nusa dan Bangsa
- Menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan
- Mempertahankan kebenaran dan mencegah kemungkaran
- Mempertahankan faham Ahlusunnah wal Jama'ah An Nahdliyah
Minggu, 05 Mei 2024
MAKNA LAMBANG PAGAR NUSA
SIMBOL DAN ARTI
Lambang PAGAR NUSA Simbol LPS Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan LAA GHAALIBA ILLA BILLAH yang melingkupi bola dunia di dalam kurva segi lima dengan beberapa atribut dan perincian sebagai berikut :
Kurva segi lima merupakan simbolisasi dari Syari’at Islam yang mempunyai lima rukun dan merupakan simbolisasi pada adanya rasa kecintaan kepada bangsa dan negara yang berpancasila. Simbolisasi ini berangkat dari dasar pengertian rukun Islam yang Nabi SAW sampaikan :
Islam itu didirika atas lima : Bersaksi bahwa sesungguhnya tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul Allah, mendirikan sholat, menunaikan zakat, berhaji ke baitullah bagi yang mampu, dan puasa Ramadhan ( HR Bukhory )
Tiga garis tepi yang sejajar dengan garis kurva merupakan lambang dari tiga pola utama yang berjalan bersama dalam cara hidup warga Nahdlatul Ulama yaitu Iman, Islam, Ihsan sebagaimana Hadits Nabi SAW ketika ditanya oleh Malakat Jibril.
Bintang sudut lima sebanyak sembilan buah dengan pola melingkar di atas bola bumi dan pada bagian paling atas bintangnya tampak lebih besar ini merupakan ekspresi dari pola kepemimpinan wali songo dan juga idealisasi dari suatu cita-cita yang bersifat maksimal karena selain bintang merupakan simbol kemuliaan juga jumlah sembilan merupakan angka tertinggi. Ini sesuai dengan mimpi Nabi Yusuf tentang bintang sebagai isyarat akan mencapai kemuliaan.
Firman Allah SWT :
Ketika Yusuf berkata kepada ayahnya : Wahai ayahku sesungguhnya aku bemimpi melihat sebelas bintang, matahari, dan bulan ; kulihat semuanya sujud kepadaku. ( QS.Yusuf : 4)
Bintang terbesar mengisyaratkan adanya pola kepemimpinan yang dalam Islam merupakan suatu keharusan.
Gambar cabang / trisula terletak ditengah bola dunia bagian atas tepat dibawah bintang terbesar merupakan manifestasi kenyataan historis bahwa senjata jenis inilah yang tertua dan lebih luas penyebarannya di bumi nusantara. Sebagai kelompok beladiri pencak silat anggota Ikatan Pencak Silat Indonesia ( IPSI ), Pagar Nusa memasukkan simbol tersebut supaya tidak tercerabut dari identitas persatuan beladiri asli Indonesia. Sebagaimana kita maklumi bersama Barang siapa memisahkan diri dari kelompok dimakan srigala
Bola Dunia / gambar bumi tepat di tengah merupakan ciri khas dari organisasi underbow Nahdlatul Ulama yang simbol utamanya berupa bumi dan tampar sebagaimana di lukiskan oleh tangan pertamanya KH. RIDWAN ABDULLAH berdasar Istikharahnya.
Pita melingkupi bumi dengan tulisan LAA GHAALIBA ILLAA BILLAH
Yang berarti tidak ada yang menang ( mengalahkan ) kecuali dengan pertolongan Allah merupakan tata nilai beladiri khas Pagar Nusa. Kalimat ini pada awal pembentukannya berbunyi
LAA GHAALIBA ILLALLAH kemudian oleh K.H. Sansuri Badawi dianjurkan untuk diberi tambahan ba sehingga berbunyi seperti sekarang. Hal ini sesuai dengan pola kalimat pada kalimat LAA HAULA WALAA QUWWATA ILLAA BILLAH yang bekonotasi umum ( am ) bagi segala bidang kehidupan.
Sedangkan secara khusus ( khas ) dengan mengambil tibar bahwa dalam Al-Quran kegiatan-kegiatan yang melibatkan beladiri secara fisik maupun non fisik banyak disebut dengan menggunakan kalimat yang berasal dari akar kata ghalaba, maka Pagar Nusa menggunakan kalimat sebagaimana tercantum dalam simbol
Firman Allah : Jika Allah menolong kamu, maka tak ada orang yang dapat mengalahkanmu ( QS. Ali Imron : 160 )
Orang orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata : berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah ( QS. Al-Baqarah : 249 )
Dan barang siapa mengambil Allah, Rasul-Nya, dan orang -orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut ( agama ) Allah itulah yang pasti menang. ( QS. Al-Maa-idah : 56 ).
Warna Hijau dan putih merupakan dua warna yang secara universal mengandung makna baik. Sebab segala yang bersih dan suci baik secara materiil ( fisik ) maupun immateriil ( non fisik ) dapat disimbolkan dengan warna putih. Sedangkan hal-hal yang bersifat sejuk, subur, makmur, tenang, enak dipandang dan lain-lain yang membahagiakan selalu dapat disimbolkan dengan warna hijau.
Warna Putih merupakan warna wajah cerah bagi orang-orang yang memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Warna hijau merupakan warna ahli sorga yang merupakan tempat kebahagiaan manusia, sebagaimana digambarkan oleh Allah SWT. :
Mereka itulah bagi mereka surga , megalir sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah. ( QS.Kahfi : 31).
Dengan demikian kombinasi warna itu merupakan kombinasi warna yang mengidolakan pemandangan di Surga kelak.
Mereka memakai pakaian sutra halus yang hijau dan sutra tebal dan dipakaikan kepada mereka gelang terbuat dari perak, dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih. ( QS Al-Insan 21)
CULTURE PENCAK SILAT PESANTREN
TRADISI SILAT DI PESANTREN
Dilingkungan Pesantren NU,terdapat banyak aliran silat baik aliran silat jawa timur, jawa barat, jawa tengah, Banten, silat betawi, silek minang, silat Mandar, Silat Mataram, dan lain lain. Oleh karena itulah untuk menyatukan semua aliran silat tersebut di bentuklah Pagar Nusa. Sebagai wadah perkumpulan pencak silat yang masih dalam naungan NU. Wadah ini tetap membuka keragaman dan memberi keluasaan pada tiap-tiap perguruan untuk mengembangkan diri. Artinya walaupun ada perbedaan namun tetap satu saudara.
PERANAN GUS MAKSUM DALAM PEMBENTUKAN PAGAR NUSA
Gus maksum adalah tokoh persilatan yang sudah sangat terkenal didunia persilatan nusantara, siapa yang tidak kenal beliau? beliau sudah malang melintang dalam panggung adu kedigdayaan para pendekar nusantara. Gus maksum terkenal dengan sebutan Si rambut api, karna saat beliau menjadi komandan pasukan penumpas PKI, di tengah pertempuran rambut beliau berubah menjadi bara api yang menyala hingga para penganut paham PKI dapat dimusnahkan dari nusantara. Dan konon hanya ibunda beliau yang sanggup memotong rambut beliau.
Seiring berkembangnya zaman, Indonesia sudah mempunyai organisasi fedarasi silat IPSI (Ikatan Pencak Silat Indonesia), Gus maksum dan para kiyai-kiyai nahdlotul Ulama’ seluruh nusantara mengadakan rapat untuk membentuk organisasi silat yang bisa masuk IPSI serta mampu mewadai perguruan-perguruan yang ada di bawah naungan organisasi NU, maka rapat yang di adakan di PonPes Lirboyo Kediri itu pun menghasilkan terbentuknya PAGAR NU dan BANGSA yang di singkat PAGAR NUSA, pada tahun 1988 akhirnya organisasi ini masuk IPSI dan mewadai perguruan- perguruan dibawah panji NU seperti perguruan GASMI, perguruan BATARA, perguruan CIMANDE, perguruan SAPU JAGAD, perguruan NH PERKASYA, perguruan CAKRA dll
Selain Gus maksum terpilih sebagai ketua Pagarnusa beliau juga terus mengembangkan Gasmi keseluruh penjuru negeri, seperti diwilayah Kalimantan, Sulawesi, sumatera, Jawa dll.
Sebenarnya di kalangan NU banyak sekali Pendekar Silat, Kyai atau ajeungan yang memiliki ilmu kanuragan, namun nama Gus Maksum tidak bisa di pisahkan dari sejarah Pencak Silat Pagar Nusa. Kecintaan silat dan rasa keprihatinan Gus Maksum bahwa banyak sekali aliran silat yang ada di lingkungan NU tapi belum punya wadah yang mengikat sehingga menjadi keluarga yang bersama sama mengembangkan serta mempertahankan tradisi silat yang turun temurun dari Wali songo mengalir ke tokoh tokoh pesantren
Hal inilah yang menginpirasi beliau mendirikan sebuah perguruan silat, ide pendirian silat ini rencananya diberi nama GASMI (Gabungan Aksi Silat Muslimin Indonesia) pada tahun 1965 walaupun belum resmi berdiri, beliau sudah mulai melakukan pelatihan silat. pada waktu itu pelatihan diadakan di komplek pesantren Lirboyo Kediri, selain bertujuan mengembangkan budaya silat di pesantren juga salah satu counter atas LEKRA ( lembaga kesenian rakyat ) lembaga di bawah naungan partai komunis indonesia PKI. Sebab LEKRA adalah otak dibalik aksi provokatif, sabotase, teror dan lain lain. Menghadapi aksi LEKRA ini,beliau mengatakan “Ada aksi ada Reaksi” artinya LEKRA beraksi GASMI bereaksi, Amar ma’ruf nahi mungkar selalu ditegakan.
Karena kesibukan beliau mengabdi pada umat, ngurusin santri dan perjuangan melawan aksi aksi PKI baru setelah situasi mulai kondusif pada tanggal 14 januari 1970 GASMI secara resmi didirikan dikediaman beliau, dihadiri para pendekar se eks-karisidenan Kediri dan Ponorogo.
GASMI inilah yang menginspirasi Gus Maksum untuk menyatukan silat yang ada di NU. dimulai dengan merangkul perguruan silat tradisional lokal seperti Jiwa Suci milik pesantren Al maruf bandar lor kediri, PORSIGAL silat tradisional Blitar, Asta Dahana perguruan silat Kediri, dan beberapa perguruan silat lokal lainnya.
MASUKNYA GASMI DAN PAGAR NUSA KE WONOGIRI
Berawal dari rasa ketidak puasan sekelompok pemuda yang sering keluar masuk organisasi silat yang ada di kismantoro,mereka adalah Pak Rohani,kang Roni,kang Bilal,kang kawit.kang paru dkk,mereka merasakan ada yang kurang dengan organisasi yang mereka Pernah coba masuki karna organisasi-organisasi itu tidak pernah mewakili spirit kerohanian yang dapat menyeimbangkan gerakan fisik dan jiwa spiritual atau inner power di dalam jiwa mereka.Akhirnya mereka dipertemukan dengan para pelatih GASMI PONOROGO oleh kang Tono yang sudah mengikuti latihan terlebih dulu di ponorogo yaitu Kang MUN,kang Medul,kang Shadiq dll ,mereka sepakat mengadakan latihan dan latihan pertama kali di adakantahun 2002 di halaman masjid Pelem,Kembangan,Gesing,Kismantoro dengan diikuti 36 siswa dan 30 siswa yang lolos menjadi waga dan berhak menyandang gelar pendekar yang telah diberi ijazah tenaga dalam oleh Gus maksum .
Awal-awal berdirinya GASMI di kismantoro mendapatkan tentangan yang sangat keras oleh organisasi silat yang sudah ada terlebih dahulu diwilayah kismantoro,tantangan itu berupa intimidasi fisik maupun psikis namun karna izin Allah gasmi Pagarnusa berkembang sangat pesat dan hingga kini mencapai ribuan siswa yang telah lulus menjadi warga dan pendekar.
AWAL PEMBENTUKAN PAGAR NUSA
Nama lengkap organisasi ini adalah Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama’ Pagar Nusa disingkat IPSNU Pagar Nusa. Sedangkan Pagar Nusa sendiri merupakan akronim dari Pagar NU dan Bangsa.
IPSNU Pagar Nusa adalah satu – satunya wadah yang sah bagi organisasi pancak silat di lingkungan Nahdlatul Ulama’ berdasarkan keputusan Muktamar.
Organisasi ini berstatus lembaga milik Nahdlatul Ulama’ yang penyelenggaraan dan pertanggungjawabannya sama sebagaimana lembaga – lembaga NU lainnya.
Status resmi kelembagaan inilah yang menjadikan Pagar Nusa wajib dilestarikan dan dikembangkan oleh seluruh warga NU dengan mengecualikan pencak silat atau beladiri lainnya.
Segala kegiatan yang berhubungan dengan pencak silat dan beladiri dengan segenap aspeknya dari fisik sampai mental, dari pendidikan sampai sistem pengamanan dan lain – lain merupakan bidang garapan bagi lembaga ini.
VISI DAN MISI
Pagar Nusa ber-Aqidah ala Ahlussunnah wal Jama’ah dengan asas organisasi Pancasila. Pagar Nusa mengusahakan :
Berlakunya Ajaran Islam berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah di tengah-tengah kehidupan negar kesatuan Repubil Indonesia yang ber-Pancasila.
Pelestarian, pembinaan, dan pengembangan pencak silat baik seni, beladiri, mental spiritual, maupun olahraga / kesehatan khususnya di lingkungan NU maupun di lingkungan warga bangsa lain pada umumnya.
ANGGOTA
Keanggotaan diatur dalam Peraturan Dasar dengan kriteria mudah yaitu warga Nahdlatul Ulama’ :
Mulai kanak – kanak sampai sesepuh ( batasan usia )
Dari yang belum mengenal pencak silat sampai yang mahir ( batasan kemampuan )
Sistem penjenjangan anggota dll, disesuaikan dengan kemampuan, usia, dan kebutuhan
MATERI PENCAK SILAT
Materi Pencak Silat Pagar Nusa Baku di susun oleh tim yang terdiri dari dewan dan sumber lain dari berbagai aliran asli dari seluruh Indonesia seperti Cimande, Cikaret, Cikampek, Cikalong, Minang, Mandar, Mataram, dll. secara sistematis dengan metode modern.
Penyusunan jurus baku, baik fisik maupun non fisik dilakukan secara bertahap, memakan waktu bertahun – tahun dan sampai kini masih dilakukan penggalian – penggalian untuk paket selanjutnya.
Materi baku telah dilengkapi Buku Panduan bergambar, Kaset, dan VCD, dapat dibeli di bagian perlengkapan pusat.
FISIK BAKU
Gerak Dasar
Paket Kanak – kanak ( setingkat TK )
Paket I A & B ( setingkat SD )
Paket II A & B ( setingkat SMP )
Paket III A & B ( setingkat SMU )
Paket Beladiri ( setingkat perguruan tinggi )
Pencapaian jurus fisik baku menjadi tolak ukur tingkatan sebagai jenjang latihan. Warna Dasar Badge pada sabuk tingkatan menyesuaikan dengan penjenjangan tersebut.
Pendalaman = Seni Festival, Lomba, dll.
= Beladiri Terapan, Keamanan, dll.
= Olahraga Pertandingan, Senam Massal, dll.
= Kesehatan Pijat, Pernafasan, Obat, dll.
= Dan Lain – Lain.
NON FISIK BAKU
Ijazah
Jurus Asma’ul Husna
Jurus Taqorrub
Pendalaman = Pengisian Badan Langsung / Instan
Pengisian Bertahap Sesuai Jurus
Pengisian Barang
Pengobatan Non Fisik
Atraksi
Do’a
dll.
MANFAAT
Bergabung dengan Pagar Nusa bermanfaat, baik sosio kultural, edukatif maupun personal.
PERANGKAT LPS NU PAGAR NUSA
Disamping Struktur kepengurusan, Pagar Nusa memiliki perangkat organisasi yang dibentuk hanya ditingkat pusat sbb :
DEWAN BESAR GURU
Yaitu Ulama – Ulama Sepuh yang sangat mumpuni baik lahir maupun batin yang menjadi rujukan terakhir bagi keputusan – keputusan penting dan merupakan back up utama LPSNU
Dewan Besar Guru Khos antara lain :
KH. ABDULLAH FAQIH KH. HABIB JAKFAR
KH. ABDULLAH ABBAS KH. M.A. FU’AD HASYIM
KH. HABIB LUTFI KH. MUSLIMIN IMAM PURO
KH. SUFYAN KH. KHOTIB UMAR
KH. MASDUQI MAHFUDZ
DEWAN GURU KHOS
Dewan ini terdiri dari Ulama – Ulama Sepuh yang sangat mumpuni baik lahir maupun batin yang menjadi sumber secara langsung dalam memberi masukan bagi kemajuan dan kesuksesan LPSNU Pagar Nusa.
Dewan Guru Khos antara lain :
KH. R. KHOLIL AS’AD KH. SYAIFUL ISLAM
KH. AGUS HALIM KH. SA’DAN MAFTUCH
KH. ALY MASHURI KH. ROFI’I
KH. ABDULLAH KH. SU’UD IBRAHIM
KH. AGUS BUSTOMI KH. NURKHOLIS
DEWAN KHOS
Dewan ini merupakan motor penggerak dan dapur organisasi yang menggali, menggodok dan merumuskan segala hal yang berkaitan dengan pencak silat dan beladiri untuk kemudian disosialisasikan di tingkat kepengurusan dan operasional.
Dewan ini juga merupakan back up langsung jembatan penghubung antara orang – orang khusus ( khos ) dengan kepengurusansecara operasional.
Dewan Khos antara lain :
PROF. DR. H. SUHAR BILLAH, SH.MBA KH. IMAM FAUZI
DRS. H. HUSNAN SANUSI DRS. SUNOTO
H. TIMBUL WIJAYA ZAINAL SUWARI
KH. KHOIRUL ANAM DRS. MAHSUN
KH. SU’UDI BAGIYONO
H. AFANDI MAS’UD MUJAHIDIN
PASUKAN INTI / PASTI
Pasukan ini dibentuk dengan kualifikasi tertentu guna memenuhi kebutuhan dalam kaitannya dengan keorganisasian dan kemasyarakatan
PERKEMBANGAN DAN POTENSI
Sejak LPSNU Pagar Nusa berdiri 3 Januari 1986, organisasi ini mengalami pasang surut dalam perjalanannya. Oraganisasi yang pertama kali berdiri berbentuk perguruan ini setelah beberapa kali melakukan Musyawarah Nasional dan Rakernas mengalami perubahan status sebagai Lembaga, lalu menjadi Badan Otonom kemudian kembali ke Lembaga lagi sesuai amanat Muktamar di masanya.
Perubahan dan perkembangan tersebut tidak mengurangi bahkan menambah potensi Pagar Nusa di NU yang memang sangat kaya akan budaya pencak silat dan yang berkaitan dengan itu.
Wilayah yang sudah terbentuk meliputi seluruh Indonesia sbb :
Batam : Sudah berdiri sebagai Komisariat atas Daerah Otorita
Sumatra : Seluruh Sumatra kecuali Aceh
Jawa : Seluruh Jawa, kecuali Jawa Barat tetapi di tingkat cabang
seperti Cirebon, Bandung dll sudah ada
Bali : Seluruh daerah sudah ada
NTB : Seluruhnya
Kalimantan : Seluruh Kalimantan
Sulawesi : Baru di Sulawesi Utara dan SulawesiTenggara
Irian Jaya : Sudah beberapa daerah.
Wilayah lain yang belum terbentuk adalah Maluku dan NTT
PRESTASI
Disamping selalu melaksanakan kegiatan rutin dan khusus yang berkaitan dengan tugas – tugas ke-NU-an maupun tugas keluar / kemasyarakatan organisasi pencak silat ini telah berhasil menempatkan putra terbaiknya di Organisasi Pencak Silat Induk Nasional / Internasional, Perguruan Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) dan Perserikatan Silat Antara Bangsa (PERSILAT) antara lain :
Pendamping Tim Pencak Silat di Selangor Malaysia
Beberapa Wasit Juri Nasional Pertandingan sampai sekarang
Beberapa Wasit Juri Nasional Bidang Pencak Silat Tradisi
Sebagai Dewan Pakar PB IPSI
LPSNU Pagar Nusa termasuk Lima Perguruan Besar di Indonesia yang berhak atas event Pencak Silat Internasional Bidang Tradisi.
Penampil sangat monumental pada Parade Pencak Silat Internasional di Denpasar, Bali.
SEJARAH SINGKAT GASMI
Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia (GASMI)
GASMI didirikan oleh KH. Manaf Abdul Karim, yang merupakan salah seorang tokoh ulama, dari terbentuknya Pondok Pesantren Lirboyo — Kediri. Beliau adalah ulama sufi (tasawuf), ulama sufi identik dengan pribadi yang lembut, dan pasrah kepada Allah SWT . Beliau pertama kali yang mengajarkan Pencak Silat di Pondok Pesantren Lirboyo pada awal tahun 1915 M , yang dulu dikenal dengan nama Pencak Prok (pencak praktis).
Sepupu beliau KH. Ya’qub (pemimpin gasmi generasi ke — 1) putra KH. Sholeh Banjarmlati Kediri, beliau adalah santri Pangeran Diponegoro. KH. Ya’qub ini ahli kanuragan dan Ilmu PAL, yang kemudian dilanjutkan oleh menantu yaitu Mbah Kyai Sepuh yaitu, KH. Mahrus Aly (pemimpin gasmi generasi ke — 2) dari Cirebon, beliau adalah Pendekar Cimande yang kemudian menggabungkan antara Pencak Cimanden & Jawa Timuran. Beliau lah yang membawa sholawat dari Kanjeng Sunan Gunung Djati yang sampai saat ini kita masih menjaga dan mengamalkan yaitu Sholawat Ibnu Alwan. Kemudian semua yang diajarkan dari awalnya Pencak Prok (1915M) yang terjaga secara turun — temurun dikumpulkan menjadi satu beserta Aurod (wirid — wirid) dan amalan dalam bentuk bingkai Organisasi Bela Diri.
Pada tahun 1960 M oleh keponakan KH. Mahrus Aly, yang juga cucu dari Mbah Kyai Sepuh dan KH. Ya’qub, yang sering dipanggil dengan sebutan “Mbah Yung" yang kita kenal dengan sebutan KH. Abdullah Ma’sum Jauhari atau Gus Ma’sum (pemimpin gasmi generasi ke — 3) yang kemudian dengan kemaslahatan, kemajuan & terjaganya serta perlawanan terhadap LERKA (PKI). Pencak Silat yang telah menanam sejarah panjang di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri itu diresmikan secara badan hukum yang sah di Indonesia pada tanggal 11 Januari 1966 M dengan nama GASMI (Gerakan Aksi Silat Muslimin Indonesia) tanggal dan tahun inilah yang kita rayakan sebagai hari milad, walaupun Gasmi telah ada jauh sebelum tahun 1966 M. Tapi, jangan hilangkan, dan lupakan sejarah yang harus tetap di ajarkan kepada generasi penerus para sesepuh dan Pendekar Bangsa. Itulah mengapa terpampang jelas di dada kita seuntai kata “GENERATION OF THE KING”.
Pencak Silat Gasmi juga mempunyai ciri khas tersendiri, antara lain yakni ;
1. Aspek Seni dan Budaya
Pencak Silat memiliki daya gerak yang dinamis karna aspek seni dan budaya merupakan unsur fundamental yang dimiliki setiap elemen kehidupan. Maka dari itu, pencak silat perlu dilestarikan.
2. Aspek olahraga
Aspek ini merupakan ornamen vital kehidupan.
3. Aspek Bela Diri
Secara historis Pencak Silat berperan besar dalam membina dan mencetak para pahlawan bangsa merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
4. Aspek Pembinaan Mental dan Spiritual
Inilah unsur terpenting dan paling mendasar yang terkandung dalam Pencak Silat sekaligus merupakan strata tertinggi dari pembinaan yang diajarkannya. Dengan memiliki ketahanan mental dan spiritual, seorang pesilat tidak hanya memili kemampuan menjaga diri atau badan, tapi juga harus mampu menjaga perilaku dan hatinya.
Sabtu, 04 Mei 2024
SEJARAH SINGKAT PSNU PAGAR NUSA
Pagar Nusa atau sering disingkat PN, adalah organisasi pencak silat di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang berdiri pada 22 Rabi’ul Akhir 1406 H / 3 Januari 1986 M di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. Dalam rangka menyatukan dan mewadahi sejumlah perguruan silat NU yang dahulunya beragam dan berdiri sendiri-sendiri. Hingga saat ini Pagar Nusa memiliki nama resmi “Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa”.
Pagar Nusa berdiri sebagai badan otonom di bawah naungan Nahdlatul Ulama yang berbasis gerakan dalam melaksanakan kebijakan NU pada pengembangan seni, budaya, tradisi, olahraga pencak silat, pengobatan alternatif, dan pengabdian masyarakat.
Sejarah Berdiri dan Para Tokohnya
Menurut Ensiklopedia NU, Pagar Nusa bertugas menggali, mengembangkan, dan melestarikan seni bela diri pencak silat Indonesia. Nama resminya adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (IPS-NU) Pagar Nusa kemudian sekarang membuang kata ikatan, menjadi Pencak Silat NU. Sedangkan Pagar Nusa sendiri berarti pagarnya NU dan bangsa. Pagar Nusa dibentuk pada 3 Januari 1986 di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur. NU mengesahkan pendirian dan kepengurusannya melalui Surat Keputusan tertanggal 9 Dzulhijjah 1406/16 Juli 1986.
Lahirnya Pagar Nusa berawal dari perhatian dan keprihatinan para kiai NU terhadap surutnya ilmu bela diri pencak silat di pesantren. Padahal, pada awalnya pencak silat merupakan kebanggaan yang menyatu dengan kehidupan dan kegiatan pesantren. Surutnya pencak silat antara lain ditandai dengan hilangnya peran pondok pesantren sebagai padepokan pencak silat. Padahal, sebelumnya pondok pesantren merupakan pusat kegiatan ilmu bela diri tersebut. Kiai atau ulama pengasuh pondok pesantren selalu merangkap sebagai ahli pencak silat, khususnya aspek tenaga dalam atau ilmu hikmah yang dipadu dengan bela diri. Di sisi Iain tumbuh berbagai perguruan pencak silat dengan segala keanekaragamannya berdasarkan segi agama, aqidah, maupun kepercayaannya. Perguruan-perguruan itu kadang bersifat tertutup dan saling mengklaim sebagai yang terbaik serta terkuat.
Para ulama-pendekar merasa gelisah melihat kenyataan tersebut. Pada saat itu seorang kiai sekaligus juga pendekar pencak silat KH Suharbillah, seorang pendekar dari Surabaya, menceritakan masalah itu kepada KH Mustofa Bisri (Gus Mus) di Rembang. Mereka lalu menemui KH Abdullah Maksum Jauhari (Lirboyo) atau Gus Maksum, yang memang dikenal sebagai tokoh ilmu bela diri.
Pada 27 September 1985 mereka berkumpul di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang. Tujuannya untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan NU yang khusus mengembangkan seni bela diri pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, Cirebon, dan Kalimantan. Kemudian terbitlah Surat Keputusan Resmi Pembentukan Tim Persiapan Pendirian Perguruan Pencak Silat Milik NU yang disahkan pada 27 Rabi’ul Awwal 1406/ 10 Desember 1985 dan berlaku hingga 15 Januari 1986.
Musyawarah berikutnya diadakan di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, pada 3 Januari 1986. Musyawarah ini menyepakati susunan Pengurus Harian Jawa Timur yang merupakan embrio Pengurus Pusat. Gus Maksum dipilih sebagai ketua umum pertama.
Nama organisasi yang disepakati dalam musyawarah tersebut adalah lkatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama yang disingkat IPS-NU yang kemudian sekarang menjadi PSNU. Ketua PWNU Jawa Timur KH Anas Thohir kemudian mengusulkan nama Pagar Nusa. Nama “Pagar Nusa" yang berasal dari KH Mujib Ridlwan dari Surabaya, beliau ialah putra dari KH Ridlwan Abdullah, yakni pencipta lambang Nahdlatul Ulama'.
KH Suharbillah mengusulkan lambang untuk Pagar Nusa, yaitu segi lima yang berwarna dasar hijau dengan bola dunia di dalamnya. Di depannya terdapat pita bertuliskan “Laa ghaliba illa billah” yang artinya ”tiada kemenangan kecuali mendapat pertolongan dari Allah”. Lambang ini dilengkapi dengan bintang sembilan dan trisula sebagai simbol pencak silat. Sedangkan kalimat ”Laa ghaliba illa billah” merupakan usul dari KH Sansuri Badawi untuk mengganti kalimat sebelumnya, yaitu ”Laa ghaliba ilallah”.
Untuk membentuk susunan pengurus tingkat nasional, PBNU di Jakarta membuat surat pengantar kesediaan ditunjuk menjadi pengurus. Surat ini ditandatangani Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid dan Rais Aam KH Achmad Siddiq.
Pagar Nusa mengadakan Munas I di Pondok Pesantren Zainul Hasan, Genggong, Kraksaan, Probolinggo. Surat kesediaan ditempati sebagai penyelenggara munas ditandatangani oleh KH Saifurrizal. beliau juga yang menentukan tanggal pelaksanaan acara tersebut, yaitu 20-23 September 1991. Namun, ternyata itu adalah tanggal yang tepat dengan 100 hari wafatnya KH Saifurrizal sehingga pada pembukaan acara pun terlebih dahulu diadakan tahlilan dan doa bersama.
Sesuai hasil Muktamar NU di Cipasung, Tasikmalaya (1994), Lembaga Pencak Silat NU Pagar Nusa berubah status dari Lembaga menjadi badan otonom. Kemudian pada Muktamar NU di Lirboyo (1999), status Badan Otonom kembali berubah menjadi lembaga.
Munas II Pagar Nusa diadakan di Padepokan IPSI Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta, pada 22 Januari 2001. Acara ini diikuti perwakilan dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Riau, Bali, Kalimantan, dan Sulawesi. Bahkan, Jawa Timur yang merupakan pusat pengembangan PSNU Pagar Nusa mengikutsertakan perwakilan dari cabang-cabang yang ada di 35 kabupaten/kota se-Jawa Timur dan pondok pesantren.
Acara yang dibuka oleh Presiden KH Abdurrahman Wahid ini membahas agenda-agenda: (1) Organisasi: Membahas masalah Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga (PD/PRT) IPS-NU Pagar Nusa; (2) Ke-Pasti-an: Membahas masalah Pasti (Pasukan lnti) dan perangkat yang lain yang meliputi seragam dan atributnya, keanggotaan, dan kepelatihan; (3) Teknik dan Jurus: Membahas, menggali, dan menyempurnakan jurus-jurus yang sudah dimiliki oleh IPS-NU Pagar Nusa yang kemudian didokumentasikan dalam bentuk hard copy (buku) dan soft copy (kaset dan VCD).
Saat ini Pagar Nusa memakai seragam khusus, antara Ialn: (1) Seragam Atlet: baju dan celana berwarna hitam dengan bagde IPSI di dada sebelah kanan dan bagde Pagar Nusa di dada sebelah kiri dilengkapi sabuk kebesaran warna hijau yang diikatkan dengan simpul hidup di sebelah kanan. (2) Seragam Pasukan Inti (Pasti) Putra: kemeja lengan panjang berwarna hitam, celana warna hitam, sepatu hitam PDH dengan memakai atribut yang telah ditentukan. (3) Seragam Pasukan lnti (Pasti) Putri: pasukan yang dibentuk dan bertugas pertama kali pada acara Istighatsah Nasional PBNU di Lapangan Kodam V Brawijaya Surabaya pada 15 Mei 2003 ini memakai seragam berupa blazer (jas) berwarna hitam, jilbab hitam, celana hitam, dan memakai sepatu PDH berwarna hitam dengan atribut yang telah ditetapkan. (4) Seragam Pengurus: baju dan celana warna hitam, jas warna putih, berkopiah hitam, dan bersepatu PDH warna hitam. (5) Seragam Tim Khos: seperti seragam pengurus ditambah dengan simbol khusus; (6) Seragam Kebesaran: jubah warna hitam yang dipakai hanya pada ajang tingkat nasional.
Beberapa tokoh yang pernah menjadi Ketua Umum Pagar Nusa adalah KH Abdullah Maksum Jauhari, KH Suharbillah, KH Fuad Anwar, KH Aizuddin Abdurrahman, Ajengan Mimih Hoiruman (PLT) dan saat ini Gus M. Nabil Haroen.
Sumber: https://nu.or.id/fragmen/sejarah-pencak-silat-nahdlatul-ulama-pagar-nusa-B5gRD
___
Download NU Online Super App, aplikasi keislaman terlengkap! https://nu.or.id/superapp (Android/iOS)
PENTJAK SOETJI KOEMPOELAN HATI (PSKH)
Kyai Syahadat beliau adalah seorang santri yang berasal dari keResidenan Kedu dan beliau juga belajar Pencak SH kepada kadhang murid la...
-
SIMBOL DAN ARTI Lambang PAGAR NUSA Simbol LPS Pagar Nusa berupa gambar Pita bertulisan LAA GHAALIBA ILLA BILLAH yang melingkupi bola d...
-
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ Kami Pesilat Pagar Nusa Sanggup Melaksanakan : Bertaqwa k...
-
Kyai Syahadat beliau adalah seorang santri yang berasal dari keResidenan Kedu dan beliau juga belajar Pencak SH kepada kadhang murid la...